Capturing on Mother Earth

Gua-Tewet-tree-of-life-Borneo-Indonesia-LHKutai Ancient Rock Art, Treasure in The Heart of Borneo

Advertisements

RAPAT FORUM PENGELOLAAN EKOSISTEM ESENSIAL KAWASAN KARST SANGKULIRANG MANGKALIHAT

re-post (untuk bahan evaluasi forum)

 

Salah satu kawasan prioritas dalam pengelolaan kawasan ekosistem esensial berdasarkan Inpres 3/2010 tentang pembangunan yang berkeadilan di Indonesia adalah Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat.  Ekosistem esensial adalah ekosistem penyangga kehidupan yang berupa ekosistem atau wilayah yang memiliki keunikan dan atau fungsi penting dari habitat dan atau jenis.  Kriteria ekosistem esensial didasarkan pada aspek nilai tataruang, keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, nilai ekologi, sosial-ekonomi-budaya, dan jasa lingkungan.

Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat seluas 1.867.676 ha  yang  terletak di Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur memiliki peran penting dalam siklus hidrologi yaitu berdasarkan pendekatan Daerah Aliran Sungai Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur, kawasan tersebut merupakan hulu dari 5 sungai utama di Berau dan Kutai Timur (Dumaring, Tabalar, Menubar, Karangan dan Bengalun) dan merupakan salah satu sumber air utama bagi masyarakat di hampir 100 desa dengan jumlah penduduk sekitar 105,000 jiwa.

Kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat merupakan sumberdaya alam yang tidak terbarukan (nonrenewable), yang jika rusak tidak dapat dipulihkan (unretrievable) dan kawasan yang sangat peka untuk segala bentuk perubahan lingkungan. Keanekaan hayati maupun nirhayati kawasan karst merupakan unsur penting penyusun keanekaan bumi (geodiversity). Tiga aspek utama kawasan karst yang bernilai ilmiah, ekonomi, dan kemanusiaan, merupakan sendi-sendi strategis begitu penting sehingga pada 1997 International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengukuhkan karst sebagai kawasan yang lingkungannya harus dilestarikan. Selain itu, saat ini kawasan karst juga diakui turut memainkan peran penting dalam siklus karbon dunia

Dalam rangka upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat di kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur yang terpadu dan terintegrasi, pada tahun 2011 telah dibentuk forum pengelolaan karst yang melibatkan pemerintah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur serta pemangku kepentingan lainnya melalui keputusan gubernur Kalimantan Timur Nomor 660/K.833/2011 tanggal 22 Desember 2011 tentang pembentukan  Forum Pengelolaan Karst dan pada tahun 2012 telah disusun rencana aksi pengelolaan kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat sebagai pedoman dalam pengelolaan kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat. Rencana Aksi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Karst Sangkulirang Mangkalihat disusun sebagai upaya untuk merumuskan kesepakatan para pihak ke dalam serangkaian rekomendasi aksi yang diharapkan dapat menjamin keberadaan dan kelestarian kawasan Ekosistem Karst, sehingga kondisi kawasan Ekosistem Karst menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Sasaran yang ingin dicapai sampai dengan tahun 2017 adalah :

  1. Penguatan pemahaman, dukungan  dan peran para pemangku kepentingan (sosialisasi, desiminasi)
  2. Tersusunnya base line data dan pusat informasi
  3. Dimulainya kegiatan pengelolaan kawasan ekosistem  karst di tingkat  tapak  – termasuk peningkatan kesejahteraan masyarakat pengelola
  4. Penetapan kawasan bentang alam karst sangkulirang mangkalihat oleh kementerian esdm – termasuk kawasan strategis provinsi/nasional
  5. Penggalangan dana untuk mendukung pengelolaan kawasan ekosistem  karst
    1. Proses  pengusulan  cagar budaya nasional dan warisan dunia

Untuk memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program kegiatan yang tertuang dalam rencana aksi pengelolaan kawasan karst SM serta untuk memperkuat kerjasama upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat, maka forum pengelolaan kawasan karst mengadakan pertemuan/rapat anggota forum pada tanggal 19 Desember 2014 di Kantor BLH Provinsi Kalimantan Timur.  Rapat forum ini dihadiri oleh anggota forum pengelolaan karst yang terdiri dari SKPDi/lembaga pemerintahan baik yang ada di Provinsi Kalimantan Timur maupun yang berada di Kabupaten Berau dan Kutai Timur, Perguruan Tinggi, LSM maupun Kelompok Pencinta Alam.

Rapat forum ini dibuka oleh Bapak Ir. H. Riza Indra Riadi, M.Si sebagai ketua forum pengelolaan kawasan karst.  Dalam sambutannya ketua forum menegaskan pentingnya perlindungan dan pengelolaan terhadap kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat yang memiliki keunikan baik dari segi alam maupun budayanya.  Kawasan ini memiliki peranan yang sangat penting baik dari segi hidrologi, keanekaragaman hayati, sosial, ekonomi dan budaya.

Ada 3 (tiga) agenda penting dalam rapat forum ini, yaitu :

  1. Update program kegiatan yang telah dilaksanakan anggota forum s/d tahun 2014
  2. Revisi SK Gubernur Prov. Kaltim Nomor 660/K.833/2011 tanggal 22 Desember 2011 tentang pembentukan  Forum Pengelolaan Karst terkait kelembagaan forum pengelolaan karst
  3. Program pengelolaan karst Sangkulirang Mangkalihat tahun 2015

Agenda pertama dalam rapat ini adalah updating kegiatan yang telah dilakukan oleh forum pengelolaan karts selama tahun 2012 sampai dengan 2014.  Selama 3 tahun sudah banyak program kegiatan yang dilakukukan yaitu :

A.  Penguatan Pemahaman, Dukungan Dan Peran Serta Pemangku Kepentingan :

  1. Kesepakatan kerjasama pengelolaan kawasan karst lintas kabupaten antara Badan Lingkungan Hidup kab Kutim dan Kab Berau yang Ditanda Tangani Oleh Masing-masing Kepala BLH
  2. Sosialisasi Kawasan Penting Karst Dan Rancangan Pergub 67/2012 di Kabupaten Berau,  Kutai Timur, KLH, ESDM Dan Kemenhut
  3. Surat Gubernur Kepada Bupati Berau dan Bupati Kutim untuk peningkatan kerjasama pengelolan karst Lintas Kabupaten
  4. Surat Gubernur kepada Menteri ESDM untuk penetepan Bentang Alam Karst Sangkulirang Mangkalihat
  5. Peraturan Gubernur No 67 tahun 2012
  6. Melibatkan diri dengan BPCB Samarinda Dalam Proses Mendorong Beberapa Lokasi Karst Sangkulirang Mangkalihat Sebagai Calon Site Warisan Dunia
  7. Melakukan Beberapa Kali Media Trip (Cetak dan Televisi) untuk meliput Kawasan Karst —kompas, tempo, tribun, kaltimpos, Net Tv, DAAI Tv
  8. Melakukan konsultasi ke Kementerian ESDM Badan Geologi Untuk Pengusulan Penetapan Bentang Alam Karst
  9. Mengikuti Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Perlindungan dan Pengelolaan Kawasan Ekosistem Karst
  10. Menerima konsultasi tentang implementasi Pergub 67/2012 terhadap beberapa calon investor tambang
  11. Menerima beberapa ekspedisi Karst dari wanadri dan Lawalata IPB

 

B.   Tersusunnya Base Line Data Dan Pusat Informasi

  1. Melakukan Studi Etnografi dan sosial budaya masyarakat sekitar karst
  2. Melakukan  serial survey untuk biodiversity di gunung Beriun, gunung Gergaji-Marang dan Merabu.
  3. Melakukan studi hidrologi, morfologi karst di merabu
  4. Penyusunan atlas karst Sangkulirang – Mangkalihat
  5. Penyusunan peta-peta pemangku kepentingan di kawasan karst
  6. Penyusunan dokumen hasil inventarsisai batu gamping dan karst Kalimantan
  7. Penyusunan RPJMK merabu sebagai kampung model pengelolaan karst berbasis tapak
  8. Memasukkan Kawasan Karst Dalam RTRWK/P
  9. Menyusun peta indikiatif tentang kawasan ekosistem karst sangkulirang – Mangkalihat
  10. Kabupaten Kutai Timur telah memasukkan beberapa karst sebagai kawasan lindung Geologi
  11. Ada inisiatif memasukkan kawasan karst sebagai Kawasan Strategis Propinsi/Nasional
    1. Membentuk kelembagaan
    2. Saat ini yang sudah dibentuk adalah Forum pengelolaan Karst
    3. Di tingkat tapak, di Merabu dibentuk lembaga pengelola hutan desa  – Kerima Puri
      1. Pengelolaan di Tingkat Tapak

Pemodelan pengelolaan bentang alam karst seluas 8,245 hektar di kampung merabu melakui skema hutan desa

Untitled

Agenda yang kedua adalah Revisi SK Forum Pengelolaan Karst. Sejak dibentuknya forum pengeloaan kawasan karst pada akhir tahun 2011 hingga saat ini, dalam perjalanannya dengan melihat kondisi dan besarnya tantangan dalam upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat dipandang perlu untuk melakukan revisi terhadap SK forum pengelolaan karst baik terkait dengan dasar pembentukan forum, keanggotaan maupan tugas forum.  Untuk keanggotaan, ada penambahan beberapa instansi atau lembaga terkait yang diharapkan dapat mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan karst, diantaranya Balai Pelestarian Cagar Budaya Samarinda, Taman Nasional Kutai, Dinas Pertanian  Tanaman Pangan Prov –  Kab. Kutim dan Berau , Pusat studi pengembangan wilayah Unmul, Pusat Penelitian dan Lingkungan Hidup Unmul, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Kutim, Dinas Tata ruang Kab Kutim dan Berau, Bagian  SDA Kab. Kutim, UPT  Pengembangan sosial dan ekonomi tropis (Tropical economic and sosial development) Unmul,   Mapflofa, UGM, Dunia usaha sektor perkebunan, pertambangan, HPH, HTI yg terdekat dengan karst serta Kelompok masyarakat sekitar kawasan karst.

Selain itu, ada revisi tugas forum pengelolaan karst untuk mengoptimalkan peran anggota forum, yaitu :

  1. Melaksanakan koordinasi pengelolaan karst, lintas pemangku kepentingan
  2. Melaksanakan pengelolaan karst sesuai sasaran pengelolaan  :
  3. Memberikan pertimbangan dan saran dalam merumuskan kebijakan perlindungan dan pengelolaan karst.
  4. Melaporkan kegiatan kepada gubernur
  • Penguatan pemahaman, dukungan  dan peran para pemangku kepentingan (sosialisasi, desiminasi)
  • Tersusunnya base line data dan pusat informasi  karst kalimantan timur
  • Dimulainya kegiatan pengelolaan kawasan ekosistem  karst di tingkat  tapak  – termasuk peningkatan kesejahteraan masyarakat pengelola
  • Mendukung penetapan kawasan bentang alam karst sangkulirang mangkalihat oleh kementerian esdm – termasuk kawasan strategis provinsi/nasional
  • Penggalangan dana untuk mendukung pengelolaan kawasan ekosistem  karst
  • Mendukung proses  pengusulan  cagar budaya nasional dan warisan dunia

Agenda ketiga adalah penyusunan program kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2015 oleh masing-masing anggota forum.  Secara garis besar semua anggota forum yang hadir mendukung program kegiatan dan telah mengalokasikan anggaran kegiatan.

Diharapkan rapat forum pengelolaan karst dapat dilaksanakan setiap tahun dan dengan adanya pertemuan/rapat ini menjadi sarana untuk mensinergikan program kegiatan yang dapat mendorong upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat untuk kesejahteraan masyarakat dan untuk menjamin keberadaan dan kelestarian kawasan Ekosistem Karst, sehingga kondisi kawasan Ekosistem Karst menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Sumber tulisan: BKSDA Kaltim

24 Des 2004

Bangsa Sumeria: Misteri di balik Fakta Sejarah

Sumeria (sekitar 3.500 – 2.300 tahun SM) adalah salah satu peradaban kuno di Timur Tengah, terletak di sebelah selatan Mesopotamia (tenggara Irak) dari catatan terawal abad ke-4 SM sampai munculnya Babilonia pada abad ke-3 SM. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sumeria.

Mereka telah mengenal bercocok tanam dan sudah memiliki sistem pengairan. Bangunan-bangunan mereka dibuat dari lumpur. Mereka menganut agama politheisme.

Bangsa Sumeria merupakan bangsa yang pertamakali mendiami kawasan Mesopotamia, sehingga bangsa Sumeria pantas disebut sebagai penduduk asli Mesopotamia. Bangsa Sumeria datang dari wilayah Asia Kecil sekitar tahun 3.500 tahun SM. Pada awalnya, bangsa Sumeria mengolah lahan pertanian yang subur sebagai mata pencahariannya. Lama kelamaan, bangsa Sumeria dapat membangun sistem pengairan untuk menanggulangi banjir dan menyalurkan air ke lahan-lahan pertanian, seperti sistem irigasi dan kanal. Dengan hasil pertanian yang melimpah, bangsa Sumeria sekitar tahun 3.000 tahun SM membangun 12 kota-kota besar, di antaranya kota Ur, Uruk, Lagash, dan Nippur.

Pada awalnya, kota-kota tersebut merupakan kota-kota yang berdiri sendiri, sehingga disebut negara kota. Kemudian terjadilah peperangan di antara kota-kota tersebut dan yang kalah akan menjadi bawahan kota yang menang yang lama kelamaan memunculkan sistem pemerintahan kerajaan. Bangsa Sumeria mencapai mansa kejayaannya saat dipimpin oleh Raja Ur-Nammu. Namun, sekitar tahun 2.300 SM, bangsa Sumeria dapat ditaklukkan oleh bangsa Akkadia di bawah pimpinan Raja Sargon.

(kutipan dari Wikipedia)

 

Sejarah Bangsa Sumeria telah banyak diketahui dari berbagai sumber dan referensi resmi, baik dari artikel, buku sejarah, maupun dari penelitian. Namun tidak semua orang dapat mengetahui, bahwa di balik fakta sejarah Bangsa Sumeria, ternyata menyimpan begitu banyak misteri yang menyelimutinya. Banyak rahasia,  legenda dan mitos yang menyertai perjalanan sejarah bangsa ini. Kita akan mencoba menggali beberapa sumber dan referensi yang jarang di publikasikan, bahkan dianggap rahasia sejarah.

Ada apa dengan Sumeria ? Apa yang menarik tentang sejarah bangsa ini? Silakan dibaca, disimak dan dianalisa sendiri.

(File berikut dapat di download dengan menyertakan sumbernya)

 

anunnaki-01

File:

TENTANG BANGSA SUMERIA

Baca juga di:

http://history-world.org/sumeria.htm